Sabtu, 22 September 2012

"Ku beri nama ia Bobon Istana Pelajar "

Bobon istana Pelajar.
yah, itulah sebutan untuk sebuah ruangan kecil yang sering ku jadikan ia bak kapal pecah saat aku mulai dihadapkan dengan tugas perkuliahan. simpel dan terdengar aneh sebenarnya, namun aneh inilah yang membuat ia berbeda.


Minggu, 13 Mei 2012

"Mengucapkan Salam Kepada Orang Kafir"


Kemudian, yang perlu diperhatikan adalah masalah mengucapkan salam kepada orang kafir. Apabila seorang bertemu dengan orang kafir, maka tidak boleh baginya untuk mengucapkan salam kepadanya. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang hal tersebut, sebagaimana dalam sabdanya:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ ».

(artinya) : Janganlah kalian mendahului mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan Nashrani, dan apabila kalian bertemu dengan mereka di jalan, maka sempitkan jalan untuk mereka. (HR. Muslim no. 5789 dari Abu Hurairah)



Lalu bagaimana jika mereka (orang kafir) yang terlebih dahulu mengucapkan salam? Kita jawab wa ‘alaikum (dan atas kalian). Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam:

أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ.

(artinya) : Apabila ahlul kitab (orang-orang kafir) mengucapkan salam kepada kalian, maka katakanlah wa ‘alaikum (dan atas kalian). (HR. Al Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 5780 dari Anas Bin Malik).



Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan bahwa orang kafir ketika mengucapkan salam, bukan yang dimaksudkan adalah mendoakan keselamatan sebagaimana kaum muslimin. Akan tetapi, mereka menggunakan lafadz yang mirip, namun maknanya sangat bertentangan. Mereka mengucapkan assaamu ‘alaikum (yang artinya) racun (kecelakaan) atas kalian. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمُ الْيَهُودُ فَإِنَّمَا يَقُولُ أَحَدُهُمُ السَّامُ عَلَيْكَ فَقُلْ وَعَلَيْكَ.

(artinya) : Apabila orang Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, maka sesungguhnya mereka mengatakan assaamu ‘alaik (kecelakaan atas kamu), maka jawablah wa ‘alaik (dan atasmu juga). (HR. Al Bukhari no. 6257 dari Abdullah Bin Umar)

أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ مَرَّ يَهُودِيٌّ بِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ السَّامُ عَلَيْكَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَعَلَيْكَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَتَدْرُونَ مَا يَقُولُ : قَالَ السَّامُ عَلَيْكَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ أَلاَ نَقْتُلُهُ قَالَ : لاََ إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ.

Anas bin Malik pernah bercerita bahwa ada seorang Yahudi melewati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu dia mengatakan, assaamu ‘alaik (kecelakaan atasmu). Maka Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam menjawab : wa ‘alaik (dan atasmu juga). Tidakkah kalian mengetahui apa yang dia katakan? Dia mengatakan assaamu ‘alaik (kecelakaan atasmu), kata Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam selanjutnya. Para shahabat pun mengatakan : wahai Rasulullah, tidakkah kita membunuhnya? Beliau menjawab : jangan, apabila ahlul kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka katakanlah wa ' (dan atas kalian juga). (HR. Al Bukhari no. 6926 dari Anas Bin Malik)


Kebiasaan mengucapkan salam kepada sesama kaum muslimin merupakan sifat yang terpuji. Namun dewasa ini, banyak dari kaum muslimin yang meninggalkannya. Ketika bertemu dengan sesamanya, mereka tidak mengucapkan salam. Bahkan ada sebagian mereka yang lebih menyukai ucapan selamat pagi,selamat sore, atau yang semisalnya. Padahal ini merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Maka hendaklah kita membiasakan diri-diri kita untuk memberi salam kepada orang lain dengan salam yang sesuai dengan tuntunan syariat .


Oleh : Abu Ali Abdus Shobur hafidzahulloh

Muroja’ah : Al-Ustadz Abu Karimah Askari hafidzahulloh


(Husna Syifa Ubaidillah)
    YOGYAKARTA

✿ "Akan Ada Kemudahan" ✿



❤❤ Merengkuh asa, menata hati tuk tegar berbalut kesabaran, menjalani ketetapan-Nya semoga kelak memetik buah yang manis, karena disetiap kesulitan akan ada kemudahan ❤❤

✿✿ seperti dalam firman-Nya ✿✿

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا [٩٤:٥]

✿Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, ✿

❤❤ HUsna Syifa Ubaidillah❤❤
             YOGYAKARTA

✿❤ "Introspeksi Diri" ✿❤


                                                Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:

“Sesungguhnya seorang mukmin adalah penanggung jawab atas dirinya, (karenanya hendaknya ia senantiasa) mengintrospeksi diri kerena Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata.”
Adalah hisab (perhitungan amal) di Yaumul Qiyamah nanti akan terasa lebih ringan bagi suatu kaum yang (terbiasa) mengintrospeksi diri mereka selama masih di dunia, dan sungguh hisab tersebut akan menjadi perkara yang sangat memberatkan bagi kaum yang menjadikan masalah ini sebagai sesuatu yang tidak diperhitungkan .”

“Sesungguhnya seorang mukmin (apabila) dikejutkan oleh sesuatu yang dikaguminya maka dia pun berbisik: ‘Demi Allah, sungguh aku benar-benar sangat menginginkanmu, dan sungguh kamulah yang sangat aku butuhkan. Akan tetapi demi Allah, tiada (alasan syar’i) yang dapat menyampaikanku kepadamu, maka menjauhlah dariku sejauh-jauhnya. Ada yang menghalangi antara aku denganmu’.”

“Dan (jika) tanpa sengaja dia melakukan sesuatu yang melampaui batas, segera dia kembalikan pada dirinya sendiri sembari berucap: ‘Apa yang aku maukan dengan ini semua, ada apa denganku dan dengan ini? Demi Allah, tidak ada udzur (alasan) bagiku untuk melakukannya, dan demi Allah aku tidak akan mengulangi lagi selama-lamanya, insya Allah’.”

“Sesungguhnya seorang mukmin adalah suatu kaum yang berpegang erat kepada Al Qur`an dan memaksa amalan-amalannya agar sesuai dengan Al Qur`an serta berpaling dari (hal-hal) yang dapat membinasakan diri mereka.”

“Sesungguhnya seorang mukmin di dunia ini bagaikan tawanan yang (selalu) berusaha untuk terlepas dari perbudakan. Dia tidak pernah merasa aman dari sesuatupun hingga dia menghadap Allah, karena dia mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban atas semua itu.”

“Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama dia memiliki penasehat dari dalam dirinya sendiri. Dan mengintrospeksi diri merupakan perkara yang paling diutamakan.”

(Mawa’izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 39, 40, 41)

Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 015

(ditulis oleh: Al-Ustadz Zainul Arifin)

✿❤•.¸✿❤•.¸✿❤•.¸¸.••..ƸӜƷ.¸.••..ƸӜƷ.¸.••..ƸӜƷ.¸.••..ƸӜƷ

"Manfaat dan Keutamaan Istighfar"


Berikut beberapa penjelasan manfaat yang akan diraih oleh hamba dengan beristighfar.

❤❤ Pertama: Istighfar Adalah Sebab Pengampunan Dosa ❤❤

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.

“Dan orang-orang yang, apabila berbuat keji atau menganiaya diri sendiri, mengingat Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa, kecuali Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imran: 135]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا.

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, (tetapi) kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nisa`: 110]

❤❤ Kedua: Meluaskan Rezeki Seorang Hamba ❤❤

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menjelaskan seruan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا.

“Maka saya berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian (karena) sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit atas kalian. Dan Dia akan melipatkangandakan harta dan anak-anak kalian, mengadakan kebun-kebun atas kalian, serta mengadakan sungai-sungai untuk kalian.” [Nuh: 10-12]

Ayat di atas menunujukkan bahwa istighfar adalah sebab turunnya rezeki dari langit, dilapangkannya harta dan keturunan, serta dibukakannya berbagai kebaikan untuk hamba sehingga, terhadap masalah apapun yang dihadapi oleh seorang hamba, jalan keluar akan dihamparkan untuknya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebut sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashry bahwa ada empat orang yang datang secara terpisah kepada beliau. Mereka mengeluh akan masa paceklik, kefakiran, kekeringan kebun, dan tidak mempunyai anak. Namun, terhadap semua keluhan tersebut, beliau hanya menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah,” lalu membacakan ayat di atas.[1]

❤❤ Ketiga: Menghindarkan Hamba dari Siksa Allah dan Musibah ❤❤

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ.

“Dan Allah tidak akan menyiksa mereka sedang mereka dalam keadaan beristighfar.” [Al-Anfal: 33]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula menjelaskan sebab terselamatkannya Nabi Yunus ‘alaihis salam,

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ. لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ.

“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk sebagai orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan itu sampai hari kebangkitan.” [Ash-Shaffat: 143-144]

Pada ayat lain, Allah Jalla Jalaluhu menjelaskan bentuk tasbih Nabi Yunus ‘alaihis salam yang merupakan salah satu makna istighfar, yaitu dalam firman-Nya,

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.

“Tiada sembahan (yang hak), kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya saya termasuk ke dalam golongan orang-orang zhalim.” [Al-Anbiya`: 87]

❤❤ Keempat: Istighfar Adalah Sebab yang Mendatangkan Rahmat ❤❤

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.

“Hendaklah kalian memohon ampunan kepada Allah agar kalian dirahmati.” [An-Naml: 46]

Perhatikanlah jaminan Allah tersebut! Allah senantiasa merahmati seseorang yang senantiasa beristighfar.

❤❤Kelima: Salah Satu Sumber Tambahan Kekuatan dan Kejayaan adalah Istighfar❤❤

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan ucapan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya sebagaimana dalam firman-Nya,

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ.

“Wahai kaumku, beristighfarlah kepada Rabb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atas kalian dan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kalian, serta janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa.” [Hud: 52]

❤❤ Keenam: Istighfar Adalah Salah Satu Hal yang Melapangkan Dada Seorang Hamba ❤❤

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sesungguhnya, kadang terdapat sesuatu yang melekat pada hatiku maka saya pun beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari.” [2]

❤❤ Ketujuh: Wajah Orang yang Beristighfar Dijadikan Berseri dan Berbahagia oleh Allah pada Hari Pertemuan dengan-Nya ❤❤

Telah shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرَّهُ صَحِيْفَتُهُ ، فَلْيُكْثِرْ فِيْهَا مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ

“Barangsiapa yang ingin bahagia dengan catatan amalnya (pada hari kiamat), hendaklah ia beristighfar kepada Allah.” [3]

Telah shahih pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

“Sangat beruntunglah orang yang menemukan bahwa pada catatan amalnya terdapat banyak istighfar.” [4]

❤❤ Kedelapan: Membersihkan Noda Hitam dari Hati Seorang Hamba ❤❤

Jika seorang hamba melakukan kesalahan, suatu noda hitam akan tertitik pada hati seorang hamba. Jika hamba beristighfar, dihapuslah noda itu dan hatinya kembali bersih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى يَعْلُوَ قَلْبَهُ ذَاكَ الرَّيْنُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ عزَّ وَجَلَّ فِي الْقُرْآنِ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.

“Jika seseorang melakukan sebuah dosa, dititiklah satu titik hitam pada hatinya. Jika dia bertaubat, berhenti (melakukan dosa), lalu beristighfar, hatinya akan kembali bersih. Jika dia mengulangi dosanya, ditambahkanlah titik hitam sampai menutupi hatinya, dan jika hatinya sudah tertutup, itulah ar-rain ‘penutup hati’ yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam Al-Qur`an, ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya sesuatu yang selalu mereka usahakan itu menjadi ar-rain terhadap hati-hati mereka.’ [Al-Muthaffifin: 14].” [5]

❤❤ Kesembilan: Istighfar Adalah Salah Satu Bekal bagi Seseorang yang Berdakwah di Jalan Allah ❤❤

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ.

“Maka bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar, serta beristighfarlah terhadap dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabb-mu pada petang dan pagi.” [Ghafir: 55]

❤❤ Kesepuluh: Sebab Terkabulkannya Doa adalah Istighfar ❤❤

Nabi Shalih ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ.

“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada sembahan (yang hak) bagi kalian, kecuali Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian sebagai pemakmur (bumi) itu maka beristighfarlah kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabb-ku amatlah dekat lagi mengabulkan (doa hamba-Nya).” [Hud: 61]

❤❤ Kesebelas: dengan Istighfar, Seorang Hamba Akan Semakin Mengagungkan dan Membesarkan Rabb-Nya ❤❤

Telah berlalu penjelasan keagungan istighfar karena digandengkan dengan tauhid dalam sejumlah ayat, juga telah berlalu penyebutan nama-nama dan sifat pengampunan Allah. Tidak diragukan bahwa dua makna tersebut sangatlah menanamkan pengagungan dan pembesaran dalam hati seorang hamba kepada Rabb-nya.

✿❤•.¸••..•.¸✿❤•.¸••..•.¸✿❤•.¸••..•.¸✿❤•.¸••..

[1] Demikian makna kisah yang disebut dalam Fathul Bary 11/98.

[2] Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari Al-Agharr Al-Muzany radhiyallahu ‘anhu.

[3] Diriwayatkan oleh Ath-Thabarany, dalam Al-Ausath, dan Dhiya` Al-Maqdasy dari Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albany rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2299.

[4] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albany rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’.

[5] Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, Ibnu Majah, dan selainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dihasankan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami’ dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahih Al-Musnad.

✿❤•.¸••..•.¸✿❤•.¸••..•.¸✿❤•.¸••..•.¸✿❤•.¸••..

SUMBER : http://dzulqarnain.net/beberapa-manfaat-dan-keutamaan-istighfar.html

Teruntuk ummu sahlah, ummahat yg sering memotivasi ana dan kawan-kawan dalam kebaikan, jazaakillahu khairaan umm,
Baarokallahu fiyk

*Husna Syifa Ubaidillah*